Apa Perbedaan Dropship dan Reseller? Simak Penjelasannya

perbedaan dropship dan reseller

Jual beli online saat ini, sudah berkembang dengan pesat. Sistem penjualan secara online, juga sudah terbagi menjadi dropship dan reseller. Sebenarnya perbedaan dropship dan reseller sudah sangat jelas, namun nyatanya masih banyak yang belum tahu.

Padahal informasi tentang perbedaan dua sistem ini harus segera dipahami, agar nantinya bisa dipilah mana yang lebih baik. Jadi jika akan mulai berjualan produk, bisa diklasifikasikan dengan jelas mana sistem yang akan dijalankan.

Untuk itu, pada uraian kali ini akan dijabarkan mengenai perbedaan dua sistem jualan ini secara menyeluruh. Setidaknya ada tujuh poin perbedaan yang akan dijadikan dasar. Untuk mengetahui semua daftar dan penjelasannya, simak rincian berikut ini:

1. Modal yang Harus Dikeluarkan

Poin perbedaan pertama antara dropship dan reseller terletak di modalnya. Jadi, sudah ada perbedaan yang sangat jelas antara dua sistem ini dari sisi modal yang harus dikeluarkan. Bisa dibilang, perbedaan ini adalah yang paling jelas.

Jadi jika seseorang menjadi dropshipper, maka tidak ada modal yang harus dikeluarkan. Baik itu untuk menyetok barang, menyewa tempat, atau kebutuhan modal lainnya. Jadi sistem ini, akan cocok dijalankan untuk pemula yang masih kesulitan modal.

Sedangkan untuk reseller, tentu harus ada modal yang dikeluarkan. Nantinya, modal ini akan dialokasikan untuk proses stok barang dan kebutuhan lainnya. Besarannya sendiri akan disesuaikan dengan jenis barang yang akan dijual.

Meski demikian, baik itu dropship maupun reseller akan sama-sama memasarkan produk dari supplier. Namun karena sudah ada perbedaan yang jelas, maka proses pemilihannya akan lebih mudah dan persiapan modalnya akan lebih terarah.

2. Stok Barang

Perbedaan dropship dan reseller yang kedua terletak pada proses stock barang. Hal ini juga berkaitan dengan sistem yang berjalan antara proses penjualan ini. Selain itu, perbedaan ini juga berkaitan dengan poin modal yang sudah diuraikan.

Jika seseorang memilih untuk menjadi dropshipper, maka tidak perlu stok barang bahkan satu jenis pun. Pihak yang perlu melakukan stok barang adalah supplier. Sedangkan dropshipper hanya perlu memasarkan produknya saja.

Apabila ada pembeli yang tertarik, maka dropshipper bisa langsung menginformasikannya kepada supplier. Nantinya, barang tersebut akan dikirim dari pihak supplier secara langsung. Jadi proses stok barang sangat tidak diperlukan.

Lalu untuk reseller, tentu akan memakai sistem yang berbeda. Supplier harus melakukan stock barang untuk semua jenis produk yang dijual. Jika ada yang melakukan pembelian, maka barang tersebut bisa langsung diserahkan kepada pembeli.

3. Strategi Pemasaran

Proses pemasaran yang dibutuhkan untuk dua jenis penjualan ini juga akan berbeda. Untuk dropship, maka proses pemasarannya akan dijalankan sepenuhnya dengan sistem online. Jadi pihak dropshipper tidak harus melakukan penawaran langsung.

Hal ini sejalan dengan sistem stok barang yang tidak diperlukan. Karena tidak ada barang yang tersedia, maka proses penawarannya bisa dilakukan secara online saja. Dengan demikian prosesnya bisa dianggap sangat efisien.

Sedangkan untuk reseller, maka strategi pemasarannya akan jauh lebih kompleks. Biasanya akan dijalankan dengan sistem online dan juga secara langsung atau direct selling. Sistem ini tentu sudah melekat dengan model reseller.

Dengan memanfaatkan strategi pemasaran yang kompleks ini, maka proses mendapatkan pembeli akan lebih mudah. Apalagi sudah ada barang yang bisa diserahkan kepada pembeli, maka strategi ini bisa segera dijalankan.

4. Keuntungan

Poin perbedaan dropship dan reseller lainnya terletak di keuntungan yang didapat. Dropship yang tidak mengenal stok barang akan memberikan keuntungan dari komisi penjualan. Setiap kali ada yang membeli barang, maka akan ada komisi yang diberikan.

Jadi semakin banyak barang yang berhasil dijual oleh dropshipper, maka komisi yang akan diberikan juga semakin banyak. Setiap supplier, tentu akan menerapkan besaran komisi yang berbeda-beda dan tidak tentu berapa persen per barangnya.

Lalu untuk reseller, maka keuntungan bisa didapatkan dari selisih harga supplier dan harga untuk pembeli. Semua reseller tentu sudah mendapat harga khusus dari supplier, sehingga bisa dijual dengan harga yang berbeda lagi.

Jika dibandingkan, keuntungan dari dropship dan reseller akan berbeda. Sistem reseller bisa memberikan keuntungan yang lebih besar. Oleh karenanya, tidak heran banyak yang memilih sistem reseller untuk mulai dijalankan.

5. Risiko

Kemudian dari aspek risiko tentu juga ada perbedaan yang sangat jelas. Jika dibandingkan, reseller akan jauh lebih beresiko daripada dropship. Hal ini dikarenakan, reseller harus selalu stok barang yang sebenarnya belum tentu laku terjual.

Jika tidak terjual dan sudah tidak menarik di pasaran, maka yang akan menanggung resikonya adalah si reseller. Barang tentu tidak bisa dikembalikan kepada supplier, karena sudah dilakukan pembelian dan penyerahan barang.

Sedangkan untuk sistem dropship tidak akan terlalu beresiko karena tidak ada stock barang yang tidak akan terjual. Namun bukan berarti sistem dropship ini juga lepas dari risiko yang mungkin saja bisa terjadi dan dirasakan.

Jika proses pemasarannya tidak tepat sasaran dan tidak memakai metode yang pas, maka jumlah pembeli barangnya akan sedikit. Apabila pembelinya sedikit, maka keuntungan yang didapat juga tidak akan banyak dan hal ini akan sangat berisiko.

6. Cara Kerja

Perbedaan dropship dan reseller selanjutnya ada di sistem kerjanya. Dropship akan memakai sistem pemasaran sebagai ujung tombaknya. Pihak dropshipper, bisa langsung memasarkan barang dengan modal foto dan struktur deskripsi barang yang jelas.

Jika ada pembeli, maka proses pemesanan dan pembayaran akan dilakukan kepada pihak dropship. Sedangkan untuk proses pengirimannya akan dijalankan oleh pihak supplier secara langsung. Jadi pada cara kerja ini, dropship hanya bekerja sampai pembayaran saja.

Lalu untuk reseller, cara kerjanya tidak jauh berbeda seperti perdagangan konvensional. Reseller akan membeli barang ke supplier sebagai stok barang. Jika sudah ada stock barang, maka reseller baru bisa melakukan pemasaran dan penjualan kepada pembeli.

Saat ada pembeli, maka proses pembayaran akan dilakukan kepada reseller dan proses penyerahan barangnya juga dilakukan oleh reseller. Dengan demikian, maka bisa dipastikan bahwa pihak reseller harus menyelesaikan sistem penjualan sampai selesai.

7. Pelayanan kepada Konsumen

Seorang dropshiper tentu tidak bisa melakukan pelayanan secara mandiri kepada konsumen. Hal ini dikarenakan proses pengemasan sampai pengirimannya ada di tangan supplier. Jadi dropshipper tidak bisa mengecek atau meningkatkan layanannya.

Sedangkan untuk reseller, maka proses pelayanannya bisa dilakukan secara mandiri. Hal ini memungkinkan reseller untuk menyesuaikan jenis layanan dan melakukan proses peningkatannya. Jadi untuk aspek pelayanan ini juga sudah ada perbedaan yang jelas.

Itulah penjelasan lengkap tentang perbedaan dropship dan reseller secara menyeluruh. Tujuh poin perbedaan tersebut tentunya harus dipahami dengan baik agar tidak menimbulkan kebingungan. Semua poinnya sudah ditambah dengan penjelasan sehingga mudah dipahami.

Jika sudah paham mengenai perbedaannya, maka bisa dipilih dengan mudah mana sistem yang akan dijalankan. Sedangkan jika tidak paham dengan perbedaannya, maka proses menjalankan sistemnya akan sembarangan dan tidak terarah.

Related Posts

Cara Menjadi Penulis Online yang Menghasilkan Uang

9 Cara Menjadi Penulis Online yang Menghasilkan Uang Paling Efektif

Jika sudah memiliki skill menulis yang mumpuni, maka jangan disia-siakan agar bisa menghasilkan tambahan pendapatan. Saat ini, cara menjadi penulis online yang menghasilkan uang sudah banyak jenisnya…

3+ Cara Cek Saldo BCA Lewat HP Termudah dan Praktis

Artikel diperbarui pada 8 Desember 2022. Cara Cek Saldo BCA Lewat HP – Saat ini, lembaga perbankan sudah semakin mempermudah para nasabahnya dengan menghadirkan berbagai aplikasi serta…

Ini Dia Cara Cek Rekening BRI Masih Aktif Atau Tidak Termudah!

Artikel diperbarui pada 8 Desember 2022. Cek rekening BRI masih aktif atau tidak – Sudah tahu belum ada cara cek rekening BRI masih aktif atau tidak termudah?…

Jenis VPS: Manfaat dan Pengertian

Artikel diperbarui pada 8 Desember 2022. Saat baru pertama kali terjun ke dunia virtualisasi VPS, Anda pasti akan menemukan istilah KVM, XEN dan OpenVZ. Ketiga istilah itu…

Cara dan Syarat Buat Kartu Kredit BCA

Artikel diperbarui pada 8 Desember 2022. Syarat buat kartu kredit BCA – Adakah yang masih bingung bagaimana cara dan syarat buat kartu kredit BCA hingga sekarang? Mengingat…

Simak Kelebihan dan Kekurangan Kredit Motor Tanpa Riba

Artikel diperbarui pada 6 Juli 2022. Kelebihan dan Kekurangan Kredit Motor Tanpa Riba – Kebutuhan kendaraan motor menjadi salah satu hal yang membuat banyak orang rela untuk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is registered on wpml.org as a development site.