7+ Platform Investasi Aman dengan Return Cukup Tinggi

Investasi aman return tinggi - Investasi yang baik akan menghadirkan cuan untuk Anda. Selain itu, investasi terbaik juga dapat mengantarkan Anda untuk mencapai tujuan investasi.

Namun, apakah Anda tahu apa itu investasi?

Investasi merupakan kegiatan menyimpan dana di suatu tempat pada periode tertentu, dengan harapan nilai yang disimpan akan bertambah waktu demi waktu.

Tentunya, kegiatan ini dapat menjadi cara terbaik untuk meningkatkan kekayaan maupun mempertahankan nilainya.

Oleh sebab itu, penting untuk Anda mencari tahu apa saja jenis investasi aman dengan return tinggi.

Tentunya, ada banyak sekali jenis investasi aman return tinggi yang bisa Anda pilih. Namun, Anda harus jeli dalam memilihnya, sebab setiap investasi memiliki mekanisme, keuntungan, serta risiko berbeda.

Supaya dapat mengetahui informasi lebih lanjut, Anda dapat menyimak ulasannya berikut ini.

Adakah Platform Investasi Aman dengan Return Cukup Tinggi?

Return atau keuntungan tinggi memang sangat menggiurkan, terutama bagi pemula. Namun, pastikan bahwa platform investasi return cukup tinggi yang akan Anda pilih sudah aman dan terpercaya.

Pertanyaannya, apakah ada platform investasi aman dengan return cukup tinggi? Tentu saja ada. Di zaman serba modern ini, sudah banyak platform investasi online yang menyediakan return cukup tinggi, salah satunya saham.

Meskipun begitu, investasi dengan return tinggi tentu saja memiliki risikonya sendiri. Bagi Anda yang ingin tahu risiko investasi dengan return tinggi, maka bisa simak ulasannya berikut ini.

Risiko Investasi dengan Return Tinggi

Di bawah ini merupakan beberapa risiko investasi dengan return tinggi, yaitu:

1. Suku Bunga

Risiko suku bunga merupakan salah satu risiko yang akan timbul karena memburuknya nilai relatif aktiva berbunga. Biasanya diakibatkan oleh adanya peningkatkan suku bunga dalam jenis investasi itu sendiri.

Tentunya, perubahan suku bunga di pasaran akan mempengaruhi pendapatan investasi maupun return sendiri.

Sebenarnya, walaupun suku bunga meningkat, namun harga obligasi berbunga tetap akan turun, begitupun sebaliknya.

Ada suatu teknik paling tua yang dapat digunakan untuk mengukur risiko suku bunga, yaitu menggunakan jangka waktu obligasi.

Misalnya, suku bunga obligasi adalah 8-10%. Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan sukuk ritel dengan suku bunga sampai 12%. Hal ini akan membuat investor akan lebih menyukai sukuk ritel daripada obligasi.

2. Risiko Pasar

Risiko investasi dengan return tinggi berikutnya dilihat dari pasar yang dapat disebabkan oleh fluktuasi maupun naik-turunnya Nilai Aktiva Bersih (NAB).

Fluktuasi dapat disebabkan oleh perubahan sentimen pasar keuangan, misalnya instrumen saham maupun obligasi.

Selain itu, perubahan juga dapat terjadi karena beberapa hal, seperti adanya resesi ekonomi, isu, kerusuhan, spekulasi serta perubahan politik.

Risiko pasar juga seringkali disebut sebagai risiko sistematik (systematic risk). maksudnya, risiko ini tidak dapat dihindari oleh para investor manapun, sehingga pasti dialami apapun risk profile masing-masing investor.

Bahkan, risiko ini akan membuat investor mengalami capital loss.

Misalnya, terdapat isu kesehatan dari seorang presiden pada suatu negara. Hal ini bisa saja memberikan fluktuasi nilai dari mata uang negara tersebut terhadap dolar yang menjadi naik.

Namun, saat Anda menghadapi fluktuasi pasar, tidak perlu lanik dan langsung mencairkan dana investasi. Pasalnya, penurunan atau kenaikan aset tidak akan terjadi secara terus menerus. Jadi, Anda bisa mempertahankannya untuk masa yang akan datang.

3. Inflasi

Risiko inflasi seringkali disebut sebagai risiko daya beli yang dapat menunjukkan bahwa nilai kas dari investasi saat ini tidak akan memiliki nilai sebanyak yang ada di masa depan. Sebab, adanya perubahan daya beli yang diakibatkan oleh inflasi itu sendiri.

Oleh karena itu, inflasi menjadi risiko yang dapat merugikan daya beli masyarakat terhadap investasi. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan rata-rata dari harga konsumsi.

Risiko ini terjadi saat seorang investor memegang uang tunai maupun berinvestasi di instrumen yang ada kaitannya dengan inflasi. Nilai uang maupun aset yang mereka miliki dapat berisiko tergerus inflasi.

Misalnya, seorang investor memegang 40% dari portofolio tunai sebesar Rp10.000.000 dan inflasi berjalan pada 5%. Hal ini akan membuat investor kehilangan nilai tunai portofolio sebesar Rp2.000.000 per tahun (Rp10 juta x 0,4 x 0,05) karena inflasi.

4. Likuiditas

Risiko likuiditas disebabkan oleh sulitnya menyediakan uang tunai dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya, ada satu pihak yang tidak bisa membayar kewajibannya saat jatuh tempo secara tunai.

Meskipun pihak itu memiliki aset cukup yang bernilai untuk melunasi kewajiban utangnya, tetapi saat aset tersebut tidak bisa dikonversikan menjadi uang tunai, maka dapat dikatakan bahwa aset itu tidak memiliki likuis.

Hal ini juga dapat terjadi jika pihak yang memiliki utang tidak bisa menjual hartanya karena tidak ada pihak lain yang berminat untuk membeli.

Namun, perlu Anda catat bahwa risiko likuiditas berbeda dengan penurunan drastis harga aktiva.

Dalam kasus penurunan harga aktiva, pasar berpendapat bahwa aktiva itu sudah tidak memiliki nilai.

Sedangkan dalam kasus risiko likuiditas, kemungkinan terjadi karena tidak ada pihak yang berminat menukar maupun membeli aktiva. Sebab, merasa kesulitan untuk mempertemukan kedua belah pihak.

Oleh sebab itu, risiko likuiditas biasanya terjadi saat pasar baru tumbuh maupun masih dalam volume kecil.

5. Valas atau Nilai Tukar Mata Uang

Risiko valuta asing alias valas merupakan salah satu risiko yang disebabkan oleh adanya perubahan pada kurs valuta asing di pasaran.

Perubahan ini tak lagi sesuai dengan yang diharapkan. Terutama saat nilainya dikonversikan ke mata uang domestik.

Intinya, risiko ini memiliki kaitan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.

Risiko valas seringjuga disebut sebagai currency risk atau exchange rate risk.

Misalnya, investor ingin berinvestasi yang membuatnya harus menggunakan mata uang US Dollar atau US$.

Kebetulan, saat itu nilai kurs rupiah terhadap dollar sedang lemah. Sehingga, investor harus mengeluarkan rupiah dengan jumlah lebih banyak daripada ketika nilai rupiah menguat.

6. Negara

Risiko negara seringkali disebut sebagai risiko politik. Pasalnya, kondisi perpolitikan negara memiliki kaitan dengan perubahan ketentuan perundang-undangan yang membuat pendapatan dapat menurun.

Bahkan, bukan hal mustahil jika investasi yang sudah ditanam pada akhirnya akan hilang begitu saja atau mengalami kerugian.

Oleh karena itu, apabila ada investor yang akan menanamkan modal di luar negeri, pastikan untuk melihat kondisi politik negara itu terlebih dahulu.

Jika kondisinya baik, maka akan berdampak positif untuk perjalanan investasi ke depannya.

7. Re-investment

Risiko investasi dengan return tinggi terakhir adalah re-investment atau risiko yang terjadi pada penghasilan dari suatu aset keuangan. Dimana mengharuskan investor untuk melakukan aktivitas penginvestasian kembali.

Saat melakukan re-invest, Anda akan mendapatkan peluang besar jika arus kas investasi menghasilkan imbal hasil yang lebih rendah saat diinvestasikan lagi ke instrumen investasi lain.

Contohnya, investor memiliki portofolio dengan kupon 3,45% untuk jangka waktu 5 tahun. Ternyata, setelah 5 tahun ternyata imbal hasil obligasi mengalami penurunan menjadi 2,55%.

Kabar baiknya, investor akan menerima semua pembayaran bunga sebesar 5% serta pokok investasi sesuai kesepakatan. Sebab, return obligasi yang dimiliki termasuk ke dalam bunga flat rate.

Masalah akan terjadi jika investor menginvestasikan kembali uangnya untuk membeli produk obligasi lain di kelas sama (yang saat ini bunganya memiliki penurunan 2,55%). Sehingga, investor tidak lagi menerima bunga kupon 5% melainkan nilai bunga yang berlaku saat ini.

Jadi, pastikan jika Anda ingin melakukan re-invest, maka harus benar-benar memahami bagaimana caranya supaya bisa mengatur atau mengelola risiko investasi tersebut.

Jenis-jenis Investasi Aman dengan Return Rendah (Low Risk - Low Profit)

Bagi Anda yang mencari jenis investasi aman dengan return rendah, maka bisa pilih beberapa produk investasi berikut ini.

1. Deposito

Deposito merupakan instrumen investasi risiko rendah yang disediakan oleh lembaga perbankan. Risiko yang dimiliki oleh deposito hanya berupa penurunan suku bunga karena kebijakan Bank Indonesia (BI) serta perbankan.

Investasi deposito tidak bisa Anda cairkan setiap waktu. Sebab, investasi ini layaknya tabungan karena memiliki tenor serta jangka waktu sendiri. Anda dapat memilih jangka waktu tersedia, mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan hingga 24 bulan.

2. Reksadana

Reksadana merupakan jenis investasi risiko rendah yang cocok dipilih oleh para pemula. Adapun jenis reksadana yang minim terhadap risiko adalah reksadana pendapatan tetap serta pasar uang.

Reksadana pasar uang merupakan jenis reksadana yang dananya diinvestasikan pada produk pasar uang dengan risiko rendah. Misalnya, melalui deposito maupun obligasi (surat utang) jangka pendek. Reksadana pasar uang cocok untuk kebutuhan investasi jangka pendek kurang dari 1 tahun.

Sementara reksadana pendapatan tetap merupakan jenis reksadana yang sebagian besar alokasi investasinya disimpan pada efek utang yang memberikan pendapatan tetap.

Misalnya, surat utang maupun obligasi yang jatuh tempo lebih dari 1 tahun, baik itu yang diterbitkan oleh korporasi maupun pemerintah.

Penyebutan pendapatan tetap karena surat utang maupun obligasi selalu memberikan imbal hasil secara rutin, misalnya sebulan maupun tiga bulan sekali.

3. Emas

Jenis investasi return rendah berikutnya adalah emas yang menjadi salah satu investasi favorit banyak orang, termasuk kalangan muda. Investasi emas terkenal sebagai investasi safe haven yang kebal terhadap inflasi serta krisis.

Walaupun begitu, tetap ada risiko yang dimiliki oleh investasi emas, salah satunya adalah penurunan harga.

Namun, tenang saja, nilai atau harga emas relatif stabil. Meskipun mengalami penurunan, tidak akan terlalu signifikan seperti halnya saham.

Selain itu, potensi untuk rebound atau naik lagi sangat terbuka lebar.

4. Peer to Peer Lending (P2P)

Investasi peer to peer lending (P2P) merupakan investasi yang dilakukan kepada perusahaan pinjaman online. Dalam hal ini, investor akan berperan sebagai pendana alias lender. Sehingga, modal yang Anda tanam akan diputar oleh perusahaan P2P untuk memberikan pinjaman kepada pihak borrower.

Perusahaan peer to peer lending biasanya menyediakan platform atau aplikasi khusus yang dapat menghubungkan Anda sebagai pendana kepada pihak peminjam.

Untuk risiko sendiri, Anda tidak perlu khawatir karena risiko yang dimiliki oleh investasi P2P hanya sebatas kegagalan bayar oleh pihak peminjam.

Meskipun begitu, pendana atau investor tetap memiliki jaminan pengembalian dana dari pihak perusahaan P2P lending, walaupun jumlahnya tidak 100% kembali.

5. Obligasi Pemerintah

Investasi aman yang memiliki return rendah berikutnya adalah obligasi pemerintah, seperti sukuk, SBR, ORI dan lainnya. Risiko dari obligasi pemerintah hanya sebatas pada risiko likuiditas saja.

Misalnya, dalam investasi ORI, risiko likuiditas akan terjadi akibat penjualan ORI sebelum masa jatuh tempo. Pasalnya, kesulitan menjual ORI pada pasar sekunder dengan harga jual wajar memang seringkali terjadi.

Selain itu, investasi SBR juga memiliki risiko likuiditas karena tidak dapat diperdagangkan pada pasar sekunder. Sehingga, hanya bisa dipegang oleh pembeli pertama saja.

6. Valuta Asing (Valas)

Investasi valuta asing merupakan suatu kegiatan penanaman modal dengan cara membeli mata uang asing. Dalam hal ini, Anda dapat membeli saat harganya murah, lalu menjual lagi saat harganya mahal.

Selisih harga itu dapat menjadi keuntungan bagi Anda dalam pelaksanaan investasi valuta asing. Walaupun kelihatan mudah, investasi valuta asing akan menuntut Anda untuk rajin mengamati kurs karena nilainya cenderung lebih fluktuatif.

7. Tabungan Berjangka

Tabungan berjangka mirip dengan tabungan karena ada tenor dalam penarikannya. Sehingga, Anda tidak bisa menariknya kapan saja, seperti tabungan pada umumnya.

Investasi tabungan berjangka cocok Anda pilih untuk persiapan masa depan, seperti biaya pendidikan, biaya lahiran, DP rumah, serta lainnya.

Selain itu, menyimpan dana pada investasi tabungan berjangka akan minim risiko karena sudah terjamin oleh LPS. Namun, return atau keuntungan yang akan Anda dapatkan pun cukup rendah.

8. Properti

Investasi properti menjadi pilihan banyak orang karena harga properti seperti rumah maupun tanah selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Untuk risikonya sendiri dapat terjadi saat Anda mendapatkan developer atau pengembang bodong, serta penipuan sertifikat.

Sementara modal investasi properti yang harus Anda persiapkan memang cukup besar. Bisa saja Anda membutuhkan modal sekitar ratusan maupun milyaran juta tergantung luas tanah maupun rumah.

Namun, dari investasi properti, Anda dapat menjual rumah atau tanah lebih mahal di masa depan.

9. Barang Antik

Selain untuk menyalurkan hobi maupun koleksi, kini barang antik juga dapat menjadi sebuah investasi. Untuk risikonya sendiri, dapat dikatakan rendah jika Anda dapat merawat barang antik dengan baik untuk meminimalisir biaya perawatannya.

Barang antik pun dapat dijual dengan cara dilelang, sehingga akan mendapatkan penawaran harga terbaik. Bahkan, Anda dapat memiliki keuntungan berlipat-lipat, apalagi jika barang antik itu cenderung unik dan langka.

Jenis-jenis Investasi Risiko Tinggi dengan Return Tinggi (High Risk - High Profit)

Di bawah ini merupakan beberapa jenis investasi risiko tinggi dengan return tinggi, yaitu:

1. Saham

Saham termasuk ke dalam jenis investasi risiko tinggi dengan return tinggi yang bisa Anda pilih. Saham merupakan surat berharga yang menunjukkan kepemilikan dari suatu badan usaha.

Saham menjadi bukti dari kepemilikan suatu perusahaan, termasuk penghasilan serta aset. Tentunya, masyarakat umum dapat memiliki saham dari perusahaan yang namanya terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain itu, saham tergolong sebagai salah satu produk pasar modal sekaligus instrumen investasi jangka panjang.

Apabila Anda berinvestasi saham, maka Anda akan disebut sebagai bagian dari pemilik perusahaan. Namun, porsi kepemilikannya sesuai dengan investasi yang Anda lakukan.

Dalam melakukan investasi saham, Anda akan memiliki dua keuntungan, yaitu dividen serta capital gain. Sementara untuk risikonya terdiri dari capital loss dan risiko likuidasi.

2. Exchange Traded Fund (ETF)

Exchange Traded Fund (ETF) tergolong sebagai salah satu investasi reksadana. Bedanya, seluruh komposisi ETF mengacu pada indeks harga saham semisal indeks saham LQ45 maupun IDX30.

Dengan mengacu kepada indeks saham, pergerakan harga setiap unit reksadana akan menyesuaikan dengan pergerakan indeks saham maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

ETF sudah terbukti memiliki performa terbaik dibandingkan banyak reksadana yang komposisinya dibuat Manajer Investasi (MI). Selain itu, ETF juga memiliki kelebihan diversifikasi, dimana investor telah melakukan diversifikasi saham dengan cara membeli ETF.

Meskipun begitu, kepemilikan ETF mesti dibayar dengan biaya-biaya yang ada di dalamnya.

3. Cryptocurrency

Jenis investasi cryptocurrency sedang disukai oleh banyak kalangan karena menjanjikan return atau keuntungan tinggi. Namun, risiko yang akan Anda hadapi pun cukup tinggi, terlihat dari harganya yang sangat berfluktuasi.

4. High Yield Bonds

High Yield Bonds menjadi jenis obligasi yang memiliki risiko paling tinggi. Sebab, investor bisa mengalami gagal bayar, lalu tidak mendapatkan apapun nantinya.

Meskipun begitu, jenis obligasi ini bisa juga Anda pilih karena memiliki keuntungan yang sepadan dengan tingkat risikonya. Bahkan, para investor dapat memiliki pembayaran rutin. Tetapi, pastikan jika ingin menggunakan investasi ini, Anda harus memahami setiap seluk beluknya dengan teliti, ya.

5. HPAM Ultimas Ekuitas 1

HPAM Ultimas Ekuitas 1 memiliki tujuan investasi untuk mendapatkan nilai pertumbuhan agresif yang optimal dalam jangka panjang. Sementara bentuk investasinya dilakukan secara aktif pada saham-saham yang dijual serta dicatatkan dalam Bursa Efek.

Hal ini mencakup utang, instrumen pasar uang, kas serta setara kas. Investasi ini cocok digunakan oleh pemilik profil risiko agresif.

Anda dapat menemukan HPAM Ultima Ekuitas 1 paling unggul selama 5 tahun dari perusahaan berikut.

  • PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)
  • PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
  • PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)
  • PT Pakuwon Jati Tbk
  • PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)

6. Simas Saham Unggulan

Simas Saham Unggulan merupakan salah satu instrumen investasi yang dapat Anda pilih. Sebab, memiliki tujuan dalam memperoleh pendapatan optimal jangka panjang, dengan tingkat fleksibilitas investasi tinggi.

Tak hanya itu, Simas Saham Unggulan juga berkomitmen dalam mengelola risiko investasi pada portofolio efek ekuitasnya, efek bersifat utang atau efek beragun aset, serta instrumen pasar uang yang sesuai peraturan perundang-undangan berlaku.

Simas Saham Unggulan memiliki kebijakan investasi minimum 80% dan maksimum 98%  pada efek yang sifatnya ekuitas. Kemudian minimum 2% serta maksimum 20% pada instrumen pasar uang, efek bersifat utang serta efek beragun aset.

Untuk portofolio investasi Simas Saham Unggulan selama 5 tahun, yaitu:

  • PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS)
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
  • PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS)
  • PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN)
  • PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).

7. Trim Syariah Saham

Trim Syariah Saham memiliki kebijakan untuk mempertahankan investasi awal serta memperoleh pertumbuhan investasi yang optimal dalam jangka panjang. Tentunya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal melalui investasi dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang telah ditetapkan oleh OJK maupun pihak lain yang telah diakui oleh OJK.

Kebijakan produk Trim Syariah Saham adalah minimal 80% dan maksimum 98% pada efek bersifat ekuitas. Sementara pada efek bersifat utang maksimum 20%, lalu minimum 0% dan maksimum 20% pada instrumen pasar uang.

Saat ini, portofolio investasi Trim Syariah Saham terbesar adalah:

  • PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
  • PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)
  • PT Ciputra Development Tbk (CTRA)
  • PT XL Axiata Tbk (EXCL)
  • PT Astra International Tbk (ASII)
  • PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Demikian informasi seputar platform investasi aman return tinggi yang bisa Anda pilih. Pastikan untuk memahami setiap jenis investasi yang akan Anda pilih, ya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
Comment url